Surabaya, Mediaperkebunan.id
Indonesia dengan jumlah penduduk 270 juta saat ini masih kesulitan mencapai swasembada gula, seperti mission imposible saja. Banyak masalah pertebunan yang penyelesaiannya akan lebih mudah bila ada kebijakan politik yang mendukung pergulaan nasional. Arum Sabil, Ketua Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, menyatakan hal ini pada Seminar Nasional Gula (Indonesian Sugar Conference) “Kiat Mencapai Swasembada Gula 2030” yang diselenggarakan Media Perkebunan.
Semuan hal di Indonesia tidak bisa lepas dari kebijakan politik demikian juga pergulaan. Kebijakan pergulaan nasional harus didukung kebijakan politik maka semua masalah mulai dari benih, pupuk, tata niaga, revitalisasi kebun dan pabrik akan lebih mudah diselesaikan.
Dengan anggaran pemerintah yang semakin terbatas maka penyediaan pupuk subsidi jauh dibawah kebutuhan sehingga cara membaginya menjadi masalah. Hari ini ada masalah serius pada tebu rakyat yaitu kekurangan tenaga tanam, rawat dan tebang.
Banyak tebu petani yang sudah waktunya ditebang tetapi karena kekurangan tenaga belum bisa ditebang. Banyak PG yang tidak mendapat pasokan tebu cukup karena tebu di kebun petani tidak tertebang.Mekanisasi tidak bisa dijalankan karena lahan yang terpencar-pencar.
Untuk swasembada ada rencana perluasan lahan. “Masalahnya sudahkah kita kenal lahan yang kita gunakan sekarang. Pada masa lalu ada sistim glebakan, lahan disiapkan dulu dan tebu ditanam pada satu hamparan luas milik petani. Untuk memutus mata rantai OPT pada satu periode di lahan itu dilarang tanam tebu, sistim glebakan dilakukan di lahan lain,” kata Arum lagi.
Sekarang sistim ini sudah tidak ada, sehingga lahan tebu tersebar. Di satu hamparan ada tebu, padi, jagung dan lain-lain. Biaya tanam jadi tinggi. Dulu air irigasi untuk tebu sudah disiapkan dengan baik. Sekarang debit air berkurang, sedag irigasi hancur lebur.
Benih sekarang pemerintah akan kembali merangkul P3GI. Pada masa lalu ketika ada program bongkar ratoon, P3GI sudah siapkan benih unggul. Tiba-tiba aturan diubah, pengadaan benih bisa oleh koperasi sehingga banyak muncul pengusaha broker yang tidak punya keahlian menjadi pemasok benih. “Petani senang dapat benih gratis tetapi karena tidak jelas asal usulnya benihnya sekaranglah akibatnya,” katanya.
P3GI harus diperhatikan, peneliti harus fokus hasilkan benih unggul, mereka tidak perlu dipusingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Di setiap negara-negara produsen gula peneliti menjadi garda terdepan.
Dalam pembuatan kebijakan harus melibatkan hati bukan logika saja. Akal bisa menerima kebijakan yang berjalan sedang hati tidak bisa diukur. Ada pembiaran masalah hati, secara teknis semua paham bagaimana meningkatkan produksi tetapi hati tidak klop. Dulu orang bekerja dari paling bawah sampai puncak karir menjadi administratur. Ini jadi kebanggaan tersendiri. Setelah jadi adm terbuka karir jadi direksi.
Sekarang jabatan administratur dihapus jadi manager sehingga kebanggaan itu menjadi tidak ada. Direksi tiba-tiba diisi dari luar sehingga semangat berkompetisi dibawah padam. Direksi baru isinya adaptasi dengan tanaman, mesin sehingga sampai selesai jabatanya isinya hanya ini saja, didalamnya jadi penuh konflik dan sabotase, hal ini yang terjadi sekarang.