Tangerang, mediaperkebunan.id – Dunia saat ini mengenal Swiss Chocolate, French Chocolate dan Belgian Chocolate, Indonesia juga perlu membuat Indonesian Chocolate. Louis Tanuhadi, Direktur and Executive Pastry Chef Academy of Pastry and Culinary Arts (APCA) of Indonesia menyatakan hal ini.
Swiss adalah salah satu negara penghasil cokelat terbesar di dunia. Mayoritas produknya adalah Milk Chocolate, White Chocolate dan cokelat dengan aneka kacang-kacangan, terutama hazelnut. Swiss Chocolate dominan rasa susu. Karena inilah produsen cokelat di luar Swiss yang memproduksi cokelat rasa susu cenderung manis pakai istilah Swiss Chocolate.
French Chocolate termasuk dalam produk grand crus, single origin artinya produksi cokelat ini hanya dari satu daerah penghasil biji kakao, tanpa campuran dari daerah atau negara lain. Satu negara, satu perkebunan, satu jenis kakao, artinya satu kualitas dan jumlahnya terbatas dan harga sangat tinggi. Karena itu pengonsumsiannya lebih tepat secara langsung, bukan untuk produksi atau pembuatan kue dan pastry, atau hanya untuk pembuatan produk premium dengan target pelanggan yang sangat khusus dan terbatas.
Awal mula Belgian Chocolate terjadi saat para chocolatier Belgia banyak berkresiasi percobaan pada rasa dan bahan baku. Mereke mencetak dan mengkombinasikan beberapa bahan dengan cokelat, seperti fondan, marzipan dan aneka kacang-kacangan sebagai isian. Terkenal luas di dunia dengan nama Chocolate Praline. Dengan paduan rasa yang kompleks dan banyak penggemar maka timbulah peryataan Cokelat Belgia adalah yang terenak di dunia.
Saat ini produsen cokelat untuk keperluan kue dan pastry juga mempergunakan formula mencampurkan biji-biji kakao yang memiliki rasa dan karasteristik yang berbeda-beda dari setiap biji asalan agar dapat diterima masyarakat luas. Tujuan untuk kestabilan rasa, harga dan produk berkelanjutan. Di Indonesia banyak produk mencantumkan Belgian Chocolate.
Indonesia Juga Perlu Buat Indonesian Chocolate
Berkaca dari hal itu maka Indonesia juga perlu membuat Indonesian Chocolate. Syaratnya seperti Belgian Chocolate yaitu dibuat 100% benar-benar dari cocoa butter, dari biji yang difermentasi, proses melanger dan choching dengan biji kakaonya berasal dari Indonesia tanpa dicampur dari negara lain.
Indonesia punya banyak daerah penghasil kakao dengan karateristiknya masing-masing. Beda dengan Belgia yang harus mengimpor biji kakao dari banyak negara sehingga tidak mungkin tambahan persyaratan itu terpenuhi.
Keunggulan biji kakao Indonesia adalah memiliki keanekaragaman rasa dan aroma dan produk cokelat akan lebih stabil pada ketahanan temperatur. Karateristik kakao Indonesia adalah tingginga titik leleh dan kaya kandungan lemaknya. Biji kakao ini menghasilkan produk olahan dengan kualitas tinggi dari rasa dan manfaat bagi kesehatan.
Indonesia Chocolate harus terbuat dari 100% lemak kakao Indonesia; dari biji kakao fermentasi; mengalami proses dengan standar baku yaitu melanger dan conching; hanya Indonesia yang memproduksi; baik cokelat singe origin maupun campuran, semua biji kakao berasal dari Indonesia.
Lalu, saat ini kita harus segera bakukan peraturan/persyaratan akan istilah Indonesian Chocolate; adakan kegiatan kompetisi, baik bean to bar maupun pastry secara profesional, terorganisir dan berkesinambungan; adakan kembali pameran HKI secara berkala dan masif, untuk khalayak ramai kerjasama antara asosiasi, pemerintah dan industri cokelat.