AKPY Kembali Dipercaya Terima Mahasiswa Beasiswa BPDP, Sri Gunawan Pastikan Lulusannya Terserap di Industri Sawit

AKPY Kembali Dipercaya Terima Mahasiswa Beasiswa BPDP, Sri Gunawan Pastikan Lulusannya Terserap di Industri Sawit

Semarang, mediaperkebunan.id – Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Sri Gunawan menegaskan bahwa beasiswa yang diberikan oleh BPDP harus berujung pada keberhasilan lulusan dalam memasuki dunia kerja, jangan sampai menganggur setelah lulus. Hal ini, menurutnya, menjadi tanggung jawab moral bagi kampus. Oleh karena itu, AKPY berkomitmen menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap dilatih, tetapi juga siap kerja setelah lulus.

“AKPY menerapkan kurikulum berbasis kompetensi perkebunan dengan sistem blok. Hal ini menjadi daya tarik bagi perusahaan, karena lulusan AKPY telah memahami secara menyeluruh pekerjaan di kebun. Kurikulum kami disusun berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kelapa sawit, sehingga selaras dengan kebutuhan lapangan,” jelasnya.

AKPY sendiri sudah bekerjasama dengan BPDP sejak tahun 2016, kemudian tahun ini kembali dipercaya untuk menerima sebanyak 550 mahasiswa beasiswa BPDP. Tahun ini AKPY juga menerima mahasiswa beasiswa dari program Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan mahasiswa beasiswa melalui perusahaan dan reguler.

Sebanyak lebih dari 20 perusahaan dari industri perkebunan kelapa sawit sudah bekerjasama dengan AKPY, hal ini disampaikan oleh Sri Gunawan saat ditemui oleh Media Perkebunan dalam acara Bina Mental, Fisik, Disiplin dan Kenal Kebun (Bintalfisdisbun) yang diselenggarakan oleh AKPY pada hari Selasa (16/09).

“Kemarin jumlah mitra tercatat 16 perusahaan, sekarang bertambah menjadi sekitar 22 hingga 25 perusahaan. Memang proses sosialisasi kami lakukan secara bertahap, karena jumlah mahasiswa saat ini masih terbatas,” ungkap Sri Gunawan.

Bintalfisdisbun merupakan acara rutin yang diadakan oleh AKPY setiap awal pembelajaran yang bertujuan untuk membina mental, fisik, dan bela negara para mahasiswa yang akan disebar ke seluruh Indonesia (Bintalfisdis). Kemudian, mahasiswa juga akan diberikan pengetahuan dasar perkebunan kelapa sawit agar saat memasuki kuliah langsung dapat mengikuti pembelajaran dari persiapan lahan, pembibitan, perawatan, sampai panen (Bun). 

Hadir dalam acara Bintalfisdisbun sebagai perwakilan mitra, Regan Ophelio yang merupakan Learning & Development PT Cargill mengatakan bahwa acara Bintalfisdisbun adalah wujud dari Link & Match ekspektasi perusahaan kepada setiap insan lulusan pendidikan khusus nya di perkebunan.

“Adanya kegiatan ini dapat memastikan setiap mahasiswa mulai mengenal arti dari suatu perjuangan, kedisiplinan dan kerja keras. Kedepannya mereka harus bisa membedakan antara dunia pendidikan dan dunia profesional di lingkungan industri selanjutnya,” kata Regan saat dihubungi oleh Media Perkebunan.

Regan mengaku PT Cargill berharap bisa mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan tuntutan perkembangan zaman. “Kita ingin SDM yang mau untuk memberikan hasil yang lebih dalam setiap proses pekerjaan (Excelent) dan kita ingin SDM bisa bekerja sama dengan sesama untuk tujuan bersama sesuai dengan visi atau misi setiap perusahaan (Diversity, Equity, dan Inklusi),” jelasnya.

Kepala LDDIKTI Wilayah 5, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D. dalam Bintalfisdisbun AKPY (16/09). Dok. Nabila Sahma Libriyanti

Hadir dalam acara, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D. memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada AKPY yang telah berkontribusi menyiapkan SDM sawit berdaya saing tinggi.

“Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi yang pertama adalah tingkat serapan lulusan, yaitu seberapa besar persentase mahasiswa yang setelah wisuda dapat langsung terserap oleh industri terkait. Di AKPY, capaian ini bahkan melampaui standar, karena sebelum lulus para mahasiswa sudah bisa diterima bekerja di industri,” ujar Prof. Setyabudi.

Kepala Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta, Dr. Ir. Purwadi dalam acara Bintalfisdisbun AKPY (16/09).
Kepala Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta, Dr. Ir. Purwadi dalam acara Bintalfisdisbun AKPY (16/09). Dok. Nabila Sahma Libriyanti

Kepala Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta, Dr. Ir. Purwadi juga memberikan apresiasi kepada AKPY yang sudah menerima mahasiswa beasiswa dari tahun ke tahun dan memastikan lulusannya terserap di industri. Menurutnya, apa yang dilakukan AKPY dapat menjadi tolak ukur bagi institusi-institusi perkebunan yang lain.

Menanggapi hal tersebut, Sri Gunawan mengaku bahwa metode pembelajaran sesuai dengan SKKNI kelapa sawit belum cukup untuk menghasilkan SDM yang siap bekerja. Transformasi teknologi saat ini sangat pesat, sehingga perlu terus mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia maupun di perusahaan-perusahaan.

“Kenyataannya, kondisi di lapangan sudah banyak berubah. Misalnya, pemanenan buah kini tidak lagi dilakukan dengan cara lama, kemudian misalnya pada teknologi pengendalian gulma, sampai penggunaan drone dalam perkebunan. Jadi, SKKNI hanya bisa dijadikan standar dasar, sementara ke depan kita harus adaptif terhadap perkembangan teknologi terkini,” jelasnya.