P3PI: AI dan Industri Sawit, Teknologi Baru untuk Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas Pabrik Kelapa Sawit

P3PI: AI dan Industri Sawit, Teknologi Baru untuk Tingkatkan Efisiensi dan Produktivitas Pabrik Kelapa Sawit

Medan, mediaperkebunan.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai akan membawa perubahan besar bagi industri kelapa sawit, mulai dari proses grading tandan buah segar (TBS), operasional pabrik, hingga pengambilan keputusan berbasis data. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Tony Liwang dari Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) dalam acara Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026.

Dalam paparannya, Tony menjelaskan bahwa perkembangan AI terus mengalami evolusi dari masa ke masa. Menurutnya, dunia saat ini sudah memasuki era generative AI hingga agentic AI yang memungkinkan sistem bekerja layaknya asisten digital.

“Dulu era memorizing, kemudian masuk era Google, lalu era algoritma media sosial seperti TikTok, WhatsApp, YouTube, dan Instagram yang mencari pengguna berdasarkan perilaku. Sekarang masuk era generative AI dan agentic AI,” jelas Tony pada hari Rabu (20/05/2026).

Ia menyebut generative AI saat ini sudah banyak digunakan sebagai “konsultan digital” yang mampu menjawab berbagai pertanyaan pengguna secara instan. Bahkan, perkembangan berikutnya adalah agentic AI, yaitu AI yang dapat bertindak sebagai asisten atau sekretaris virtual. “Agentic AI bisa membantu arrange tiket dan itinerary, seperti sekretaris pribadi,” katanya.

Namun demikian, Tony mengingatkan bahwa AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan bagian dari transformasi ekonomi global yang harus diantisipasi oleh Indonesia. Menurutnya, kesiapan Indonesia dalam menghadapi transformasi AI masih perlu ditingkatkan. “Indonesia belum baik-baik saja, tetapi masih ada waktu. Selama belum mencapai economic transformation, AI masih sebuah mesin,” ujarnya.

Dalam industri sawit, salah satu penerapan AI yang saat ini mulai berkembang adalah teknologi grading TBS berbasis AI atau AI FFB Grading Technology yang dikembangkan oleh PT Bhuana Raya Inovasi Cemerlang (BRIC). Teknologi ini memungkinkan sistem mendeteksi tingkat kematangan tandan secara otomatis dengan tingkat akurasi tinggi. “FFB Grading Technology sudah dikembangkan dan digunakan di beberapa perusahaan. Akan ketahuan tandan tersebut matang atau tidak dan bagaimana kondisinya,” jelas Tony.

Ia menambahkan bahwa AI tidak bekerja sendiri, melainkan harus dikombinasikan dengan berbagai disiplin ilmu lain seperti agronomi, engineering, dan teknologi informasi. Menurut Tony, salah satu persoalan klasik di lapangan adalah banyaknya buah sawit yang sebenarnya belum matang tetapi tetap dipanen dan diolah sehingga meningkatkan oil losses atau kehilangan minyak. “Masih banyak tandan susah dipanen sampai didorong dan diinjak sehingga terjadi oil losses,” ungkapnya.

Melalui sistem AI grading, buah sawit dapat dipindai untuk mengetahui tingkat kematangannya secara akurat. Tony menyebut teknologi tersebut bahkan mampu mencapai tingkat akurasi hingga 98 persen. “Di grading ini terlihat scan apakah matang atau tidak. Akurasinya mencapai 98 persen,” jelasnya.

Dengan sistem klasifikasi utama dan sub-klasifikasi, AI dapat membantu meningkatkan actual extraction rate sehingga potensi peningkatan Oil Extraction Rate (OER) menjadi lebih optimal. Tony juga menyoroti bahwa selama ini cukup banyak tandan yang masuk pabrik sebenarnya tidak layak diolah karena kandungan minyaknya sangat rendah.

“Hampir 10 persen sebenarnya rejected. Berapa banyak energi dan uang yang habis karena dua jam tersebut sebenarnya nggak ada minyaknya,” katanya.

Selain grading TBS, AI juga mulai diterapkan dalam operasional pabrik kelapa sawit melalui sistem monitoring berbasis data secara real-time. Dalam materi presentasinya, teknologi tersebut mampu memberikan berbagai manfaat bagi manajemen perusahaan, mulai dari pemantauan OER dan OEE secara langsung, optimasi efisiensi operasional, predictive maintenance, hingga monitoring konsumsi energi dan keberlanjutan.

Bagi manajemen pabrik, AI memungkinkan analisis penyebab masalah dilakukan lebih cepat dan objektif. Sementara bagi tim engineering dan maintenance, AI membantu penjadwalan perawatan mesin secara prediktif dan pengelolaan suku cadang yang lebih efisien.

Tony menilai bahwa masa depan industri sawit akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan AI dengan strategi bisnis dan operasional di lapangan.

Dalam materi penutupnya, ia menyampaikan bahwa dunia sedang memasuki era “Invisible Interface”, yaitu kondisi ketika teknologi AI bekerja secara otomatis di belakang sistem tanpa banyak interaksi manual dari manusia.

“We are entering the era of the Invisible Interface. To thrive, we need more than just scattered AI tools. We need a unified ecosystem where agentic intelligence meets human strategy,” kata Tony.

Ia juga menekankan bahwa meskipun AI semakin canggih, peran manusia tetap sangat penting, terutama dalam aspek strategi dan pengambilan keputusan. “As machine autonomy increases, human cognitive burden shifts from routine mechanics to strategic and moral direction,” pungkasnya.

Menurut Tony, AI FFB Grading dan teknologi AI untuk operasional pabrik kelapa sawit hanyalah contoh awal bagaimana kecerdasan buatan mulai diterapkan di industri sawit modern. Ke depan, integrasi AI diperkirakan akan semakin luas untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan industri sawit nasional.